SINETRON INDONESIA YANG MENYEDIHKAN

Melihat tayangan sinetron di stasiun TV kita sungguh menyedihkan. Selain ceritanya yang tidak masuk akal, seringkali menjiplak, alur cerita tidak beraturan, tokoh utama yang selalu menderita, dan tokoh antagonis yang selalu jahat luar biasa acap kali menghiasi alur utama sinetron kita. Sinetron atau drama seri tv seharusnya bisa di jadikan sebagai cerminan jati diri bangsa tapi bagi Indonesia lain cerita. Drama TV di Indonesia sangat berbeda dengan drama dari negara manapun ( berbeda bukan krn baik). Di Indonesia sinetron seringkali striping dan diatur oleh rating akibatnya kualitas menjadi nomor dua. Sebagai orang indonesia yang seharusnya bangga akan produksi drama negeri sendiri, saya jadi sedih karena tidak pernah suka dengan drama negeri sendiri. Sinetron bagi saya pribadi adalah tayangan “sampah” yang tidak layak dikonsumsi oleh publik. Bagi masyarakat kota besar seperti Jakarta saat ini sudah banyak yang lebih memilih tayangan berita atau acara tv berbobot lainnya daripada sinetron yang tidak ada pangkal ujungnya. Akan tetapi bagi yang tinggal di pelosok-pelosok tayangan sinetron adalah hiburan yang sangat menarik karena semua kemewahan selalu ditampilkan plus bintang-bintangnya yang sangat rupawan.

Apakah penulis cerita sinetron tidak bisa berkreasi????

Tema utama sinetron pada umumnya berkisar seputar cinta remaja dan harta tidak ada tema lainnya yang digali secara lebih mendalam. Padahal banyak sekali tema-tema menarik di sekeliling kita yang bisa dijadikan inspirasi penulis cerita seperti: masalah kelulusanyang memberatkan siswa dan ortu, biaya kuliah yang semakin mahal, ujian kelulusan yang banyak membuat stress siswa, persahabatan dsb.

Nah, sekarang mengapa penulis kita seperti kehilangan kreatifitas dalam meramu sebuah cerita.. banyak yang beralasan tema-tema sosial yang ada di sekitar kita terlalu berat untuk di konsumsi masyarakat  yang sudah susah setiap hari dengan masalah ekonomi, tapi bagi saya pribadi itu bukanlah alasan kita tidak bisa membuat sebuah cerita menarik yang sarat pesan  moral bagi yang menontonnya…

Akankah  sinetron jalan di tempat?????

Sinetron sama seperti industri musik kita yang sudah menjadi tuan di rumah kita sendiri tapi berbeda dengan industri musik yang bertaburan banyak musisi-musis baru yang saling berlomba-lomba memamerkan kreativitasnya, sinetron tampak sangat monoton. Yang saya perhatikan hanya banyak wajah- wajah baru bermunculan yang silih berganti bak jamur di musim hujan. Parahnya  lagi, banyak sekali diantaranya  yang hanya bermodalkan tampang sedangkan kapasitas akting mereka hanya pas-pasan. Kondisi ini makin di perparah lagi dengan mandulnya kreativitas para penulis cerita. Sungguh sangat di sayangkan bangsa yang begitu besar dengan beragam permasalahan dan keragaman masyarakatnya  tetapi tidak ada satupun penulis cerita drama TV kita yang menyinggung kondisi kemajemukan bangsa kita yang unik.

Coba bandingkan dengan drama jepang.

Kita semua tahu Jepang adalah negara paling maju di Asia dan menjadi trendsetter mode bagi anak muda di seluruh asia bahkan kini dunia barat sudah mulai melirik dan mengadopsi trend harajuku. Walaupun kehidupan masyarakatnya sudah sangat bebas seperti halnya dunia barat namun untuk acara TV ternyata mereka memiliki batasan-batasan yang sangat ketat. Untuk tayangan yang sarat kekerasan dan terkesan dewasa biasanya ditayangkan tengah malam atau diatas pukul 9 malam.  Saya pribadi kagum dengan drama jepang yang hampir seluruhnya di buat dengan serius. Drama jepang umumnya menyoroti banyak masalah yang sedang terjadi di masyarakat mereka. Tema dramanya pun juga beragam ada yang tentang dunia kedokteran, pendidikan, cinta remaja yang manis, dunia kerja, persahabatan antar teman, hubungan ortu dan anak, dsb.

Bagi pecinta drama jepang, saya selalu kagum akan kreativitas produser, sutradara, dan penulis cerita yang seperti tidak pernah kehabisan ide cerita. Rata-rata setiap satu drama jepang  hanya sampai 11 episode. bandingkan dengan sinetron yang rata-rata bisa ratusan episode. Drama jepang juga selalu fokus pada tema cerita, tidak membelok maksudnya bila berkisah tentang dunia kedokteran maka yang banyak dibahas adalah masalah seluk-beluk dunia kedokteran minus kisah cinta antara dokter dan pasiennya atau suster dan dokternya. Akan tetapi karena mereka kreatif meramu cerita, kebosanan jarang saya temui walaupun mungkin hanya satu dua orang yang berwajah rupawan. Selain itu, drama jepang biasanya sarat akan pesan moral seperti misalnya salah satu drama yang pernah saya tonton berjudul ” Dragon Zakura” berkisah tentang usaha seorang pengacara untuk mengajar dengan metode yang tidak biasa agar dapat meluluskan siswa-siswi di sekolah yang dianggap sebelah mata agar bisa lulus ujian masuk  ke Universitas Tokyo (universitas ternama di jepang). Sangat menarik menyaksikan kisah drama ini karena saya kembali terkenang akan masa-masa smu ketika harus berusaha keras belajar agar bisa lolos UMPTN. Dari drama ini saya banyak mendapat pelajaran berharga bahwa ternyata masyarakat Jepang tidak pernah kenal kata menyerah walaupun mungkin usaha yang mereka lakukan belum tentu  berhasil.

 Adapula kisah cinta romantis yang tidak kampungan dengan alur cerita yang tidak bertele-tele. Umumnya kisah cinta drama mereka tidak melulu cinta seorang pria kaya pada gadis miskin yang dihalangi oleh pihak ketiga seperti umumnya sinetron kita. Ada salah satu cerita cinta khas jepang yang sangat menyentuh. Berkisah tentang seorang penata rambut terkenal yang bertemu dengan seorang gadis cacat berpenampilan sederhana. Berkat keahlian si penata rambut gadis muda cacat yang introvert akhirnya berubah menjadi gadis manis yang lebih percaya diri. Cerita kisah cinta ini kemudian diakhiri dengan kematian si gadis akibat penyakit yang sudah lama diidapnya namun si gadis meninggal dengan kepuasan dan senyum manis karena pada saat terakhirnya sang penata rambut pujaannya kembali untuk mempercantik dirinya . Akhir yang dramatis namun tidak terkesan cengeng.   Satu pelajaran penting dari drama ini bahwa cinta sejati itu bukan berarti harus terus bersama sampai akhir hayat tapi dengan hanya banyak membuat orang yang dicintai tersenyum bahagia sepanjang hidupnya itu sudah cukup.

Nah, tidak heran bila saya sedih bila menyaksikan deretan sinetron kita dengan bermacam-macam judul dan pemain yang berbeda namun ternyata mengusung cerita dan tema yang benar-benar sama. Bila kondisi ini terus berlanjut dunia persinetronan kita bersiap-siaplah untuk mati suri ………

Iklan

Leave a comment »

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Comments (1) »